idup itu indah. Terlebih saat kau memiliki pasangan yang
sangat setia. Pasangan yang bisa sekaligus menjadi adik. Pasangan yang bisa
sekaligus menjadi sahabat. Dan aku rasa itu terjadi padaku. Aku beruntung bisa
berkenalan dengannya. Aku tidak akan pernah menyesali pertemuan pertama
dengannya. Kisah itu berawal ketika aku menginjakkan kaki di kelas 8 SMP.Oiya,
sebelumnya perkenalkan namaku Haykal.
Saat jam istirahat, Aku, Dimas, Dzidan,
dan Akmal yang kebetulan kami sekelas, dikelas 8A pergi ke kantin bersamaan.
Tepat pada hari itu adalah hari pertama kami duduk di kelas 8 Yeah Masa
pertengahan, dimana kami memiliki kakak kelas dan juga akan memiliki adik
kelas. Ya kami memang selalu bersama suka maupun duka. Tepat pada hari itu
adalah masa masa orientasi untuk seluruh anak – anak kelas 7.
3 hari kemudian
Setelah masa orientasi selesai kami
berempat kembali pergi ke kantin pada hari itu. Pada saat melewati
perpustakaan, aku melihat seorang anak perempuan sedang terlihat kesusahan
membawa banyak buku. Akhirnya aku membantu membawa buku-buku itu dan membawanya
ke kelasnya. Dari situlah kami berkenalan. Ternyata namanya adalah Kesha. Lama
kelamaan kami menjadi semakin dekat bahkan seperti adik kakak yang tak bisa
dipisahkan. Dia telah menganggapku kakak, mungkin juga kakak teristimewa dan
juga sebaliknya. Ia pernah bahkan sering menjadikan aku sebagai tempat
mencurahkan semua keluh kesahnya.
“Kak, aku mau cerita ke kakak. Boleh yaaaa….
Pliiissss.” Katanya saat kami berjalan ke lantai 3 gedung sekolah.
“Mmmm kamu mau
curhat apa?...Kalo mau curhat silahkan, nanti kakak dengerin. Siapa tau kakak
bisa bantu.” Ujarku. Ia bercerita tentang semua keluh kesahnya pada hari itu.
Ia bercerita bisa sampai berjam jam tetapi anehnya aku biasa saja tak ada rasa
bosan untuk mendengarkan ceritanya. Aku senang melihat wajah bahagianya,
Parasnya yang cantik secantik namanya dan sikapnya yang anggun membuat dia
menjadi idaman semua cowok yang ada disekolah kami.
Disitulah aku merasakannya.
Merasakan suatu getaran-getaran yang membuat diriku berbeda. Perasaan yang
membuat diriku sering galau. Kini aku
menjadi sering sekali chatting dengannya. Mulai dari Facebook, Whatsapp, Line, dan terkadang kami saling menelfon satu
sama lain. Kami Membahas apa saja yang kami alami. Bercanda ria seperti
pasangan kakak beradik sungguhan hanya kalau kami kan berbeda orangtua. Kami
selalu menanggapinya dengan serius terkadang kami bertengkar hanya karena
masalah-masalah sepele yang akhirnya memulai perdebatan antara kami berdua.
Tetapi, pada akhirnya aku mengalah kepadanya karena, terkadang membuat ia
menangis. Aku paling tidak suka melihat seseorang yang aku sayangi itu menangis
terlebih adikku sendiri.
Keesokan harinya, kami kembali
bertemu. Kali ini agak sedikit berbeda karena aku tidak ditemani oleh
teman-teman ku. Kami pun berjalan ke kantin berdua bagaikan pasangan yang baru
saja jadian. Terkadang anak-anak di sekolah kami iri pada kami karena kedekatan
kami yang sudah seperti pacaran. Kami sering Hang-out bareng, nonton bioskop, dan juga makan berdua di café.
Hari – hari bahagia itu kami lewati
dengan bersuka ria. Ya, hanya kami berdua Aku dan Dia. Dia yang sering ngegreet aku, dia yang sering menyapa
aku, dia yang selalu mengisi hari-hariku, dia yang selalu menyemangati aku saat
aku jatuh, dia yang selalu menjadi adik yang selalu setia menemani kakaknya
kemanapun ia pergi.
Dia sangat sangat spesial bagiku
bahkan sampai aku membuatkannya puisi dan puisi ini aku berikan kepadanya. Kini
aku memanggilnya dengan sebutan “My Little Girl”. Panggilan khusus itu
kuberikan padanya setelah aku membuat puisi itu. Kami sering sekali
bersama. Sampai suatu saat ada orang
lain yang membuatnya berubah 180 derajat. Ya, namanya Rayhan dan itu adalah temanku
sendiri. Dan akhirnya pada hari itu mereka jadian L. Sempat tersesali olehku kejadian
di sekolah tadi karena, sebenarnya yang membuat mereka dekat adalah aku. Sekarang
ia lebih memilih bersama orang itu. Ia lebih memilih berjalan berdampingan
dengannya daripada denganku. Ia lebih memilih bercerita semua keluh kesahnya
kepada dia bukan denganku. Ia lebih memilih makan berdua dengannya dibandingkan
denganku.
“Apa salahku?
Apa yang membuat ia lebih sering dengan orang itu dibandingkan denganku? Apa
salahku?” Ucap batinku.
Karena peristiwa itu sekarang aku lebih memilih
menyendiri diantara keramaian yang ada. Aku lebih sering murung. Aku lebih
memilih menghindar darinya. Sampai-sampai ia bertanya kepadaku. “Kak, kamu
kenapa? kok lebih sering murung sih sekarang?beda sama kakak yang dulu.”
Aku pun menjawabnya dengan santai “Ah, apaan
sih kamu..hahaha..Aku gapapa kok dek..im fineJ” .
Sekarang aku lebih sering mencurahkan
isi hatiku melalui sebuah puisi. Sudah banyak puisi yang aku buat dan itu semua
mencerminkan perasaanku sekarang. Saat aku mencari referensi puisi di internet
aku juga menemukan puisi karangan Kahlil Gibran yang berisi tentang cinta. Ya,
itu sangat cocok untukku. Yang memiliki judul “AKU ATAU KAMU YANG TERLUKA”
begini isi puisinya..
AKU ATAU KAMU YANG TERLUKA
CINTA YANG AGUNG
adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH perduli terhadapnya
Adalah ketika dia
tidak memperdulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia
Adalah ketika ia
mulai mencintai orang lain tetapi kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata
‘Aku turut bahagia
untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil
BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
Dan terbang ke alam
bebas LAGI
Ingatlah…
Bahwa kamu mungkin
menemukan cinta dan kehilangannya
Tetapi ketika cinta
itu mati kamu TIDAK perlu mati bersamanya
Orang terkuat BUKAN
mereka yang selalu menang
MELAINKAN mereka
yang tetap tegar ketika mereka jatuh
“Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana”
Seperti kata yang
tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya
abu
“Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana”
Seperti isyarat
yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada
Apabila cinta
memanggilmu
Ikutilah dia
walaupun jalannya berliku liku
Dan apabila
sayapnya merangkulmu pasrahlah serta menyerah
Walau pedang
tersembunyi di sela sayap itu melukaimu
Puisi itu sangat menyentuh hatiku. Seketika aku teringat
masa-masa bahagiaku dengannya. Tanpa kusadari air mataku menetes. Lalu
datanglah temanku, Akmal dan bertanya “ Lu kenapa,?”
Lagi-lagi aku menjawab dengan santai “ Gue ngga papa kok”
Segera kuusap air mataku yang menetes
itu. Aku langsung pergi meninggalkannya tanpa meninggalkan kata- kata.
Sesampainya di
rumah..
Aku masih
memikirkan kejadian tadi di sekolah. Seketika kepalaku pusing. Mungkin karena
aku banyak pikiran kali ya ujarku dalam hati. Pusingnya semakin menjadi-jadi
saat aku memikirkan dia. Dan pada akhirnya aku putuskan untuk aku beristirahat.
Kemudian aku terbangun dengan kondisi lemah, lemah sekali bahkan lebih lemah
dari orang sakit pada umumnya.
Keesokan
harinya, tiba-tiba pusing itu datang kembali dan kali ini disertai mimisan.
Tetapi tetap aku paksakan berangkat ke sekolah. Saat itu ada pelajaran
matematika di kelasku. Dan kebetulan salah satu temanku yang sudah ku anggap
sebagai saudara, Riani namanya, berulang tahun. Semua berbahagia pada waktu itu
tetapi, aku tetap saja murung.
Semua
orang bertanya-tanya kepadaku “Lu kenapa sih? Ada masalah kah? cerita aja
kenapa sih..” itu kata yang diucapkan sebagian besar orang yang menanyakan
keadaanku sekarang.
Saat dirumah, aku merasa lemah, lemah sekali.
Akhirnya mamaku membawaku ke dokter. Dan dari hasil tes aku mengidap penyakit Kanker Jaringan Lunak. Aku sangat
terkejut, sedih, sakit semua bercampur jadi satu. Aku merasa hidupku takkan
lama lagi.
Sekarang,
aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih beristirahat dirumah. Selagi ada
waktu luang aku menghabiskannya dengan membuat Puisi karanganku sendiri. Sudah
banyak puisi yang ku karang. Tiba tiba rasa sakit itu datang lagi aku meringis
kesakitan. Entah kenapa sakit ini lebih sakit daripada sebelumnya.
Pada malam itu juga aku dibawa oleh orang tuaku ke rumah
sakit. Saat aku sudah merasa siuman aku iseng membuat satu puisi walaupun aku
merasakan sakit yang amat perih.
Isinya seperti ini
:
Setiap manusia itu pasti memiliki cahaya
Cahaya kehidupan yang sangat terang
Terang bagaikan sinar matahari
Yang selalu menyinari alam semesta yang fana ini
Cahaya itu yang membuatku semangat
Semangat mengarungi bahtera kehidupan ini
Semangat untuk membuat semua orang tersenyum
Walaupun pada akhirnya aku harus tersakiti
Sekarang Cahaya itu mulai redup, redup sekali
Sampai sampai tidak ada lagi cahaya kehidupan pada diriku
lagi
Aku merasa lemah, lemah sekali
Lebih lemah dari orang yang sakit
Entah mengapa aku merasa aku ingin pulang
Pulang ke kehidupan abadiku di surga
Aku ingin rasa sakit ini segera hilang
Walaupun pada akhirnya akan membuat semua orang yang
kusayangi sedih
Aku ingin pulang….
Kemudian aku pun memberi kepadanya puisi itu yang
kebetulan ada di sebelah ranjangku. Aku sempat mengatakan kata terakhirku
untuknya “Kesha, maafin kakak. Sekarang kakak mau pergi….” Seketika aku benar
benar merasa ingin pulang. Aku pun tertidur. Aku melihat suatu pintu yang
bercahaya putih sangat kuat. Aku pun mengikutinya sampai akhirnya aku tidur
untuk selama-lamanya dan juga meninggalkan dia untuk selamanya tanpa berpamitan
dengannya. Dan aku rasa itu puisi terakhir yang kuberikan padanya. Semoga rasa
cintaku padanya kan abadi untuk selamanya.
Semoga bermanfaat yoo yang bacanyaa....semoga aja yang galau karena gebetannya diambil orang ...itu cepet move on...karena buat apa sob kita galau lama lama mending happy aja iye ngga?